Kamis, 03 November 2016

Macam-macam sejarah pemalang

1.)MISTERI KALI BACIN DAN KEKUATAN GAIB PATIH SAMPUN, SELALU MEGAR SENDIRI HANYA SEMALAM

PEMALANG, Menurut ceritera yang berkembang di masyarakat secara turun temurun, Kali Bacin sesungguhnya tidak pernah diperlebar. Anehnya, lebar jembatan Kali Bacin selalu sesuai dengan ukuran lebar jalan.

Kali Bacin terletak melintas di jalan Jenderan Sudirman Barat, tepatnya persis di sebelah timur Kantor Pegadaian Pemalang. Dekat pertigaan lampu merah kota atau sebelah timur alun-alun Pemalang.

Menurut mitos yang berkembang, jembatan Kali Bacin di Jalan Jenderal Sudirman itu dulunya salah satu kali dan atau jembatan yang dibangun oleh Kanjeng Patih Sampun. Karenanya, diyakini pula bahwa Kali Bacin mempunyai daya gaib yang berkekuatan mistis dengan selalu dapat menyesuaikan lebar jalan dengan sendirinya disepanjang waktu.

Meskipun sulit dipertanggung jawabkan secara ilmiah, namun mitos tentang misteri jembatan Kali Bacin terus berkembang hinggi saat ini. Walaupun sejauh ini belum ada pihak-pihak yang membuktikan kebenarannya.

Menurut salah seorang pemerhati budaya yang biasa di sapa kang Alek, mitos jembatan Kali Bacin diyakini bahwa pada saat ada pelebaran jalan, maka diwaktu malam tanpa diketahui oleh manusia yang lalu-lalang, jembatan itu akan menyesuaikan dengan sendirinya. Dan baru esok paginya, kemudian orang menyadari bahwa ternyata Jembatan Kali Bacin itu telah menyesuaikan dengan lebar jalan yang di bangun.

Meskipun sosok fenomenal Patih Sampun bagi wong Pemalang sudah melegenda, namun siapa sosok sebenarnya Patih Sampun masih misterius dan juga dikenal dalam riwayat yang beragam. Salah satu misterinya yang belum terjawab secara ilmiah adalah tentang asal usulnya. Salah satu versi yang berkembang bahwa Patih Sampun merupakan keturunan bangsawan dari Tanah Pasundan.

Adalah Ki Suryo, salah satu budayawan Pemalang mengatakan bahwa menurut beberapa referensi yang diperoleh, Patih Sampun dalam cerita ini bernama Samsudin Alias Salamudin. Tak Lain, adalah kakak Pangeran Yusup Raja Cirebon dan juga cucu dari Sultan Gunung Jati.

Menurut sumber-sumber yang dihimpun mediakita.co, sosok yang juga di kenal dengan nama Talabudin atau Kalabudin ini, mengapa di pemalang sebagai satu ketidak sengajaan. Ketika itu, Salamudin sedang menempuh perjalanan dari tanah pasundan menuju ke arah Kerajaan Majapahit. Setiba di wilayah Pemalang, tiba-tiba dirinya jerjebak selaksa terkena “oyod mingmang”. Sehingga dirinya tidak bisa keluar dan hanya melingkar-lingkar diwilayah Kadipaten Pemalang selama beberapa hari.

Menyadari dirinya kalah dalam ilmu kanuragan sehingga terjebak oleh kekuatan gaib dan tidak bisa keluar dari wilayah Pemalang, yang tak lain adalah kedigjayaan dari Penguasa Pemalang maka, Salamudin menghadap sang Bahu Rekso Pemalang ketika itu yaitu Ki Sembung Yudha untuk meminta pertolongan. Tidak jelas bagaimana detailnya, hanya konon karena Ki Sembung Yudha tertarik dan melihat kemampuannya, maka kemudian Ki Salamudin diangkat menjadi seorang Patih Pemalang dengan gelar Patih Sampun Jiwo Negoro. (R-01)

2.)PANGERAN BENOWO DI PERCAYA PENDIRI PEMALANG

CERITA tentang Pangeran Benowo tidak bisa lepas dari terbentuknya salah satu kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Pemalang, sebab berkat perannya itu muncullah pemerintahan baru yang berada di pinggir pantai utara. Bahkan hingga sekarang kabupaten tersebut masih eksis dan terus berkembang baik dari segi ekonomi, budaya, maupun pemerintahannya. Namun tahukah siapa Pangeran Benowo itu, dalam sejarah, kita tahu, Pangeran Benowo merupakan salah satu anak dari Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir dari Kerajaan Pajang.

Meskipun demikian, sebagian masyarakat Pemalang barangkali tidak tahu latar belakang mengapa Pangeran Benowo dikuburkan di Desa Penggarit. Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabuapten Pemalang, Bambang Aryotejo mengatakan, dari cerita yang beredar di masyarakat hingga sekarang, keberadaan makam sang pangeran di Desa Penggarit itu dilatarbelakangi pencarian pusaka yaitu keris Sitapak. Pusaka tersebut dimiliki oleh salah satu tokoh masyarakat yang bermukim di dekat Pantai Widuri, tepatnya di Desa Plawangan yaitu Tunggu Wasesa.

Dengan memiliki keris tersebut dipercaya Kerajaan Pajang bisa memenangi perang Konjana Papa, yaitu perang antara anak dan bapak untuk memperebutkan tahta kerajaan itu. Pangeran Benowo yang merupakan anak sah Sultan Hadiwijaya meskipun bukan anak sulung atau putra mahkota, tentu membela kedudukan ayahnya. Diuji Ia diberi tugas untuk mendapatkan pusaka keris Sitapak yang dimiliki oleh Tunggul Wasesa sehingga rela melakukan perjalanan jauh dari Pajang hingga ke Plawangan.

Dia mengatakan, ketika sampai di Plawangan, Panegeran Benowo bertemu dengan orang yang dimaksud yaitu Tunggul Wasesa dan mengutarakan sebab kedatangannya. Tunggul Wasesa memberikannya dengan syarat bahwa ia bisa mengangkat pusaka tersebut dan menikahi anaknya yang bernama Dewi Urang Ayu. Ia ingin menguji apakah Pangeran Benowo betul-betul ingin mendapatkan pusaka itu dan menjalankan darma bakti pada orang tua meskipun harus menikah dengan seorang perempuan yang tidak cantik. Ternyata keris Sitapak dengan amat mudah diangkat oleh Pangeran Benowo.

Pangeran Benowo berjanji akan menikahi Dewi Urang Ayu kalau ia sudah menjalankan darma bakti membela Sultan Hadiwijaya dalam peperangan. Akan tetapi Kerajaan Pajang kalah dengan Sutawijaya yang berkuasa di Kota Gedhe.

Mendengar berita kekalahan itu, Pangeran Benowo kecewa. Hasil kerja kerasnya sia-sia belaka. Kini sebuah makam di Desa Penggarit, Kabupaten Pemalang dipercayai oleh masyarakat setempat sebagai makam Makam Pangeran Benowo, dan selalu ramai dikunjungi peziarah pada hari-hari tertentu.

3.)ASAl DINAMAKAN KABUPATEN PEMALANG

. Nama Pemalang diambil dari kepribadian watak rakyat Pemalang yang bersemboyan:

- Benteng wareng ing payudan tan sinayudan.

- Banteng wareng ing sinonderan yang artinya, rakyat Pemalang jika  sudah dilukai atau dijajah berani berjuang RAWE-RAWE RANTAS  MALANG-MALANG PUTUNG BERANI BERKORBAN HABIS-HABISAN DEMI NUSA DAN BANGSA.

- Arti banteng wareng rakyat kecil payudaan : perang tan sinayudan :  perang tidak dapat dicegah RAWE-RAWE RANTAS MALANG MALANG PUTUNG BANTENG  WARENG SINONDERAN : Dalam melawan musuh sambil menari-nari, sinonderan  biarpun sampai kalung usus takan pantang menyerah.

2. Nama Pemalang  diambil dari nama sungai me'malang' yang membentang dari sebelah utara  desa Kabunan membujur ke pelabuhan Pelawangan. Sungai tersebut sering  digunakan untuk sarana angkutan, membawa barang-barang dari pusat  Pemalang ke berbagai wilayah seperti Kabunan, Taman, Beji, Pedurungan  (pada abad ke XIV di masa Majapahit berkuasa) saat itu penguasa Pemalang  adalah Ki Gede Sambungyudha.
3. Karena erosi akibat arus sungai yang membawa lumpur dari gunung ke laut diperkirakan per tahun terkikis lima-enam meter maka sungai MALANG berpindah ke utara dari Comal ke Asemdoyong, sungai itu melintang malang, tidak dari selatan gunung ke utara tetapi dari timur ke barat, sehingga membingungkan orang yang mau berbuat jahat. contohnya ketika patih Thalabuddin dari kesultanan Banten membawa keris Kyai tapak ia mendadak menjadi bingung ( keder ) sehingga mondar-mandir saja di Pemalang.

PEMALANG KOMPLANG(1575-1604)

Para pakar sejarah,sesepuh dan Pinisepuh,Pendata legenda Pemalang,ulama  dan lapisan masyarakat Pemalang meyakini bahwa Pemalang merupakan kota  tua.

Ditinjau dari proto sejarah (Permulaan Sejarah) dan kronologis  dari tahun ke tahun dari prasa yang autentik membuktikan bahwa Pemalang  dalam tahun 700 masehi sudah berdiri pada jaman Hindu yang dipimpin oleh  keturunan Sanjaya yang bernama Rakai Panaraban yang merupakan Raja sunda keturunan mataram).

Pengakuan dari kerajaan Pajang membuktikan keberadaan Pemalang waktu  itu. Ke-sepuluh pemerintahan yang sah di akui oleh Kerajaan Pajang  adalah : 1 . Surabaya

2 . Tuban

3 . Pati

4 . Demak

5 . Pemalang

6 . Butan

7 . Selarong

8 . Banyumas

9 . Krapyak

10 . Mataram

Bukti penemuan pada peta Palitik pulau Jawa (Java Palitik Toestand)  menyatakan keberadaan Pemalang sejajar dengan kota lainnya di pesisir  pulau Jawa,kota-kota tersebut adalah 1 . Kota Bantam (sekarang Banten)

2 . Kota Batavia

3 . Kota Pemalang

4 . Kota Semarang

5 . Jipang

6 . Kerawang

7 . Surabaya

8 . Madura.
Menurut peta tersebut,beberapa tempat seperti Losari,Brebes,Tegal,Comal,Pekalongan dan Batang termasuk kedalam wilayah kekuasaan Pemalang.dalam perpustakaan nasional Jakarta pada Hari jadi kota Tegal 1920,pada saat itu Kendal,Batang,Pekalongan,termasuk Comal dan Brebes belum terdaftar pada peta tersebut.

Pengakuan terhadap keberadaan Kota tua Pemalang tidak hanya diberikan oleh masyarakat Pemalang saja,namun juga dari kabupaten – kabupaten di sekitar Pemalang dan Kota besar lainnya seperti Banten,Cirebon,Karawang,Jakart

a dan yang lainnya.

Pengakuan dan Pengukuhan hari jadi kota Tegal pada hari Jum’at Kliwon  12 April 1580. Ki Gede Sebayu yang merupakan cucu dari Pangeran Benowo  Pemalang diangkat menjadi jurudemang dengan dikukuhkannya Tegal menjadi  Kota Kademangan.
Maka semakin jelas,dari hari jadi Kota Tegal 1580,yang mengesahkan Jurudemang Tegal adalah Pangeran Banowo penguasa dari Pemalang,kota yang telah menjadi pemerintahan yang telah mapan pada waktu itu.

4. )Sejarah Kabupaten Pemalang

Keberadaan Pemalang dapat dibuktikan berdasarkan berbagai temuan arkeologis pada masa prasejarah. Temuan itu berupa punden berundak dan pemandian di sebelah Barat Daya Kecamatan Moga. Patung Ganesa yang unik, lingga, kuburan dan batu nisan di desa Keropak. Selain itu bukti arkeologis yang menunjukkan adanya unsur-unsur kebudayaan Islam juga dapat dihubungkan seperti adanya kuburan Syech Maulana Maghribi di Kawedanan Comal. Kemudian adanya kuburan Rohidin, Sayyid Ngali paman dari Sunan Ampel yang juga memiliki misi untuk mengislamkan penduduk setempat.

Eksistensi Pemalang pada abad XVI dapat dihubungkan dengan catatan Rijklof Van Goens dan data di dalam buku W FRUIN MEES yang menyatakan bahwa pada tahun 1575 Pemalang merupakan salah satu dari 14 daerah merdeka di Pulau Jawa, yang dipimpin oleh seorang pangeran atau raja. Dalam perkembangan kemudian, Senopati dan Panembahan Sedo Krapyak dari Mataram menaklukan daerah-daerah tersebut, termasuk di dalamnya Pemalang. Sejak saat itu Pemalang menjadi daerah vasal Mataram yang diperintah oleh Pangeran atau Raja Vasal.

Pemalang dan Kendal pada masa sebelum abad XVII merupakan daerah yang lebih penting dibandingkan dengan Tegal, Pekalongan dan Semarang. Karena itu jalan raya yang menghubungkan daerah pantai utara dengan daerah pedalaman Jawa Tengah (Mataram) yang melintasi Pemalang dan Wiradesa dianggap sebagai jalan paling tua yang menghubungkan dua kawasan tersebut.

Populasi penduduk sebagai pemukiman di pedesaan yang telah teratur muncul pada periode abad awal Masehi hingga abad XIV dan XV, dan kemudian berkembang pesat pada abad XVI, yaitu pada masa meningkatnya perkembangan Islam di Jawa di bawah Kerajaan Demak, Cirebon dan kemudian Mataram.

Pada masa itu Pemalang telah berhasil membentuk pemerintahan tradisional pada sekitar tahun 1575. Tokoh yang asal mulanya dari Pajang bernama Pangeran Benawa. Pangeran uu asal mulanya adalah Raja Jipang yang menggantikan ayahnya yang telah mangkat yaitu Sultan Adiwijaya.

Kedudukan raja ini didahului dengan suatu perseturuan sengit antara dirinya dan Aria Pangiri.

Sayang sekali Pangeran Benawa hanya dapat memerintah selama satu tahun. Pangeran Benawa meninggal dunia dan berdasarkan kepercayaan penduduk setempat menyatakan bahwa Pangeran Benawa meninggal di Pemalang, dan dimakamkan di Desa Penggarit (sekarang Taman Makam Pahlawan Penggarit).

Pemalang menjadi kesatuan wilayah administratif yang mantap sejak R. Mangoneng, Pangonen atau Mangunoneng menjadi penguasa wilayah Pemalang yang berpusat di sekitar Dukuh Oneng, Desa Bojongbata pada sekitar tahun 1622. Pada masa ini Pemalang merupakan apanage dari Pangeran Purbaya dari Mataram. Menurut beberapa sumber R Mangoneng merupakan tokoh pimpinan daerah yang ikut mendukung kebijakan Sultan Agung. Seorang tokoh yang sangat anti VOC. Dengan demikian Mangoneng dapat dipandang sebagai seorang pemimpin, prajurit, pejuang dan pahlawan bangsa dalam melawan penjajahan Belanda pada abad XVII yaitu perjuangan melawan Belanda di bawah panji-panji Sultan Agung dari Mataram.

Pada sekitar tahun 1652, Sunan Amangkurat II mengangkat Ingabehi Subajaya menjadi Bupati Pemalang setelah Amangkurat II memantapkan tahta pemerintahan di Mataram setelah pemberontakan Trunajaya dapat dipadamkan dengan bantuan VOC pada tahun 1678.

Menurut catatan Belanda pada tahun 1820 Pemalang kemudian diperintah oleh Bupati yang bernama Mas Tumenggung Suralaya. Pada masa ini Pemalang telah berhubungan erat dengan tokoh Kanjeng Swargi atau Kanjeng Pontang. Seorang Bupati yang terlibat dalam perang Diponegoro. Kanjeng Swargi ini juga dikenal sebagai Gusti Sepuh, dan ketika perang berlangsung dia berhasil melarikan diri dari kejaran Belanda ke daerah Sigeseng atau Kendaldoyong. Makam dari Gusti Sepuh ini dapat diidentifikasikan sebagai makam kanjeng Swargi atau Reksodiningrat. Dalam masa-masa pemerintahan antara tahun 1823-1825 yaitu pada masa Bupati Reksadiningrat. Catatan Belanda menyebutkan bahwa yang gigih membantu pihak Belanda dalam perang Diponegoro di wilayah Pantai Utara Jawa hanyalah Bupati-bupati Tegal, Kendal dan Batang tanpa menyebut Bupati Pemalang.

Sementara itu pada bagian lain dari Buku P.J.F. Louw yang berjudul De Java Oorlog Uan 1825 -1830 dilaporkan bahwa Residen Uan Den Poet mengorganisasi beberapa barisan yang baik dari Tegal, Pemalang dan Brebes untuk mempertahankan diri dari pasukan Diponegoro pada bulan September 1825 sampai akhir Januari 1826. Keterlibatan Pemalang dalam membantu Belanda ini dapat dikaitkan dengan adanya keterangan Belanda yang menyatakan Adipati Reksodiningrat hanya dicatat secara resmi sebagai Bupati Pemalang sampai tahun 1825. Dan besar kemungkinan peristiwa pengerahan orang Pemalang itu terjadi setelah Adipati Reksodiningrat bergabung dengan pasukan Diponegoro yang berakibat Belanda menghentikan Bupati Reksodiningrat.

Pada tahun 1832 Bupati Pemalang yang Mbahurekso adalah Raden Tumenggung Sumo Negoro. Pada waktu itu kemakmuran melimpah ruah akibat berhasilnya pertanian di daerah Pemalang. Seperti diketahui Pemalang merupakan penghasil padi, kopi, tembakau dan kacang. Dalam laporan yang terbit pada awal abad XX disebutkan bahwa Pemalang merupakan afdeling dan Kabupaten dari karisidenan Pekalongan. Afdeling Pemalang dibagi dua yaitu Pemalang dan Randudongkal. Dan Kabupaten Pemalang terbagi dalam 5 distrik. Jadi dengan demikian Pemalang merupakan nama kabupaten, distrik dan Onder Distrik dari Karisidenan Pekalongan, Propinsi Jawa Tengah.

Pusat Kabupaten Pemalang yang pertama terdapat di Desa Oneng. Walaupun tidak ada sisa peninggalan dari Kabupaten ini namun masih ditemukan petunjuk lain. Petunjuk itu berupa sebuah dukuh yang bernama Oneng yang masih bisa ditemukan sekarang ini di Desa Bojongbata. Sedangkan Pusat Kabupaten Pemalang yang kedua dipastikan berada di Ketandan. Sisa-sisa bangunannya masih bisa dilihat sampai sekarang yaitu disekitar Klinik Ketandan (Dinas Kesehatan).

Pusat Kabupaten yang ketiga adalah kabupaten yang sekarang ini (Kabupaten Pemalang dekat Alun-alun Kota Pemalang). Kabupaten yang sekarang ini juga merupakan sisa dari bangunan yang didirikan oleh Kolonial Belanda. Yang selanjutnya mengalami beberapa kali rehab dan renovasi bangunan hingga kebentuk bangunan Jogio sebagai ciri khas bangunan di Jawa Tengah.

Dengan demikian Kabupaten Pemalang telah mantap sebagai suatu kesatuan administratif pasca pemerintahan Kolonial Belanda. Secara biokratif Pemerintahan Kabupaten Pemalang juga terus dibenahi. Dari bentuk birokratif kolonial yang berbau feodalistik menuju birokrasi yang lebih sesuai dengan perkembangan dimasa sekarang.

Sebagai suatu penghomatan atas sejarah terbentuknya Kabupten Pemalang maka pemerintah daerah telah bersepakat untuk memberi atribut berupa Hari Jadi Pemalang. Hal ini selalu untuk rnemperingati sejarah lahirnya Kabupaten Pemalang juga untuk memberikan nilai-nilai yang bernuansa patriotisme dan nilai-nilai heroisme sebagai cermin dari rakyat Kabupaten Pemalang.

Penetapan hari jadi ini dapat dihubungkan pula dengan tanggal pernyataan Pangeran Diponegoro mengadakan perang terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda, yaitu tanggal 20 Juli 1823.

Namun berdasarkan diskusi para pakar yang dibentuk oleh Tim Kabupaten Pemalang Hari Jadi Pemalang adalah tanggal 24 Januari 1575. Bertepatan dengan Hari Kamis Kliwon tanggal 1 Syawal 1496 Je 982 Hijriah. Dan ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Kabupaten Pemalang Nomor 9 Tahun 1996 tentang Hari Jadi Kabupaten Pemalang.

Tahun 1575 diwujudkan dengan bentuk Surya Sengkolo “Lunguding Sabdo Wangsiting Gusti” yang mempunyai arti harfiah : kearifan, ucapan/sabdo, ajaran, pesan-pesan, Tuhan, dengan mempunyai nilai 5751.

Sedangkan tahun 1496 je diwujudkan dengan Candra Sengkala “Tawakal Ambuko Wahananing Manunggal” yang mempunyai arti harfiah berserah diri, membuka,
sarana/wadah/alat untuk, persatuan/menjadi satu dengan mempunyai nilai 6941.

Adapun Sesanti Kabupaten Pemalang adalah “Pancasila Kaloka Panduning Nagari” dengan arti harfiah lima dasar, termashur/terkenal, pedoman/bimbingan, negara/daerah dengan mempunyai nilai 5751(*)

0 komentar:

Posting Komentar